Membersihkan Hati dengan Mengingat Mati

Adakalanya penyakit hati lebih mudah dibersihkan dengan mengingat mati (dzikrul maut). Sumber-sumber penyakit sombong, hasad, amarah dan syahwat bisa lebih cepat mereda tatkala kita mengingat kematian. Saat kematian dimana kita harus meninggalkan segala hiruk pikuknya kehidupan ini dan masuk ke dalam tanah yang hanya cukup menampung sekujur badan kita. Disanalah jasad kita dikubur sendiri, menghadap sang Pencipta untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan yang telah kita jalani.

Adakah orang yang tidak gentar dengan hari kematiannya? Hari dimana kita melanjutkan perjalanan sendirian, meninggalkan seluruh anak isteri yang kita cintai, melupakan sanak kerabat yang menangisi kepergian kita. Semua kemegahan yang kita banggakan di dunia ini, tidaklah berarti apa-apa. Semua kekayaan yang kita kumpulkan dengan segala cara dan sepanjang hidup, harus kita tinggalkan. Semua pangkat dan jabatan yang melekat sedikitpun tidak bisa membantu kita.

Maka, kesombongan apakah yang hendak kita benarkan saat kita teringat kematian? Bila kita sombong karena kekayaan yang kita miliki, sungguh tidak berarti apa-apa seluruh harta kekayaan yang kita miliki tersebut. Semuanya kita tinggalkan di dunia, sedangkan jasad yang selama ini dibalut pakaian mewah dan mengenakan berbagai perhiasan, hanya dibungkus dengan kain kafan lalu dibaringkan diatas tanah tanpa alas. Bila kita sombong oleh pangkat dan jabatan yang disandang, tidaklah berarti apa-apa saat jasad dibaringkan. Semua bawahan dan banyaknya pengikut yang biasa mengelu-elukan semasa hidup, tidak akan ikut menemani saat jasad diturunkan ke liang lahat. Semuanya kita tanggalkan dan menghadap yaumil hisab sendirian. Di hari itu, hanyalah amalan yang kita bawa.

Karena itu pulalah, orang yang ingat akan kematian akan mudah membersihkan hatinya dari hasad dan dengki. Ia tidak mungkin dengki kepada orang-orang yang harta kekayaannya melimpah, sebab semua itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Semakin banyak harta yang kita miliki, semakin banyak pula yang harus dipertanggungjawabkan. Sedikit dan banyaknya harta, menjadi jalan kebaikan bagi orang-orang beriman, yang selalu ingat pada kematian.

Sayangnya, tidak sedikit manusia yang justru lalai dari ingat pada kematiannya. Mereka terjerumus pada kehidupan dunia yang melenakan. Kehidupan yang melenakan adalah kehidupan yang tidak dibimbing oleh nilai-nilai agama, sehingga semua yang dilakukan mengikuti apa yang dirasakan dan diinginkannya. Nilai-nilai dunia yang lepas dari nilai agama adalah berdasar pada kepuasan ragawi. Maka, tidaklah mengherankan bila kemudian segala aturan kehidupan mengikuti kehendak ragawinya yang sesaat dan tidak pernah puas.

Saat itulah, beragam penyakit hati tumbuh menyelubungi kehidupan manusia. Manusia yang terjebak dalam kehidupan dunia adalah bagaikan orang yang mengikuti permainan namun ia tidak tahu tujuan dan aturan main itu sendiri, sehingga ia baru sadar tatkala waktu permainan hendak usai. Begitupula kehidupan. Orang berlomba-lomba mengumpulkan harta kekayaan, meraih pangkat dan jabatan, namun mereka tidak tahu untuk apa dan tidak mempedulikan aturannya. Tatkala semua itu harus diakhiri, ia baru menyadari bahwa semua pangkat, jabatan dan kekayaan yang dikejarnya bukanlah inti permainan dan bukan pula tujuan dari permainan itu.

Maka, orang yang ingat akan kematian, adalah orang yang cerdas. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA : “Aku datang menemui Nabi SAW, bersama sepuluh orang, lalu salah seorang Anshar bertanya : Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi SAW menjawab : Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (HR Ibnu Majah).

Dengan mengingat mati, ada dua hal yang ia ketahui pasti. Pertama, ia tidak akan terjebak pada hiruk pikuknya kehidupan dunia, ia tahu semua perhiasan dunia yang diraihnya hanyalah sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, sarana untuk memperbanyak amal shalih. Kedua, ia tidak akan mudah dihinggapi penyakit hati dan betapa mudahnya membersihkan hatinya, sebab ia mengetahui semua karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia ini adalah amanah. Tidak ada gunanya hasad atas karunia yang diberikan Allah kepada orang lain, karena sesungguhnya semua itu pun amanah. Bahkan, ia bisa merasakan kebahagiaan manakala orang lain mendapatkan karunia serta berharap hal itu akan menjadi sarana kebaikan bagi orang yang menerimanya.

Seluruh karunia dan amanah Allah SWT di dunia ini, baik berupa harta kekayaan, pangkat dan jabatan, maupun kemuliaan hidup di dunia, hanyalah episode dan peran yang dimainkan manusia untuk mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang sesungguhnya. Karena itulah, semakin sering seseorang mengingat kematian, maka akan semakin mudah baginya untuk membersihkan penyakit hati.
Budi Hata’at, Lc, KotaSantri.com

No Comments Yet

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar